Ketika AI Makin Dekat dengan Manusia, Digital Psychology BINUS UNIVERSITY Bahas Dampak Bagi Manusia di Digital Psychology Forum 2026

waktu baca 5 menit
Kamis, 8 Okt 2026 10:02 0 Redaksi

Digital Psychology BINUS University bersama Asia Pacific University of Technology & Innovation (APU) Malaysia dan RMIT Vietnam menghadirkan Digital Psychology Forum 2026: International Joint Research Symposium (IJRS): Exploring the Future of Digital Psychology pada 7 Oktober 2026 secara daring. Forum ini diselenggarakan sebagai ruang kolaborasi akademik internasional untuk melihat perkembangan cyberpsychology dari berbagai perspektif.

Jakarta, 8 Oktober 2026 – Curhat kepada AI, meminta saran ketika menghadapi masalah pribadi, hingga menggunakan chatbot sebagai bentuk dukungan emosional mulai menjadi bagian dari interaksi manusia dengan teknologi. Fenomena tersebut kini ikut menjadi perhatian dunia kesehatan. Menjawab isu tersebut, BINUS University bersama Asia Pacific University of Technology & Innovation (APU) Malaysia dan RMIT Vietnam menghadirkan Digital Psychology Forum 2026: International Joint Research Symposium (IJRS): Exploring the Future of Digital Psychology pada 7 Oktober 2026 secara daring. 

Mengusung tema “Risks and Opportunities of Digital Interactions for People’s Wellbeing”, forum ini mempertemukan akademisi, praktisi, dan mahasiswa dari berbagai negara untuk mengeksplorasi hubungan antara perilaku manusia, teknologi, serta interaksi digital. Forum ini sekaligus menjadi ruang kolaborasi akademik internasional untuk melihat perkembangan cyberpsychology dari berbagai perspektif.

Dr. Elisa Carolina Marion, S.S., M.Si., Dean Faculty of Humanities BINUS University, menegaskan pentingnya kerja sama lintas disiplin dan institusi dalam memahami dampak teknologi terhadap kesejahteraan manusia. “Inovasi yang bermakna terjadi ketika orang-orang dari berbagai latar belakang berkumpul dengan tujuan yang sama. Saya berharap simposium ini dapat melahirkan gagasan baru, menginspirasi kolaborasi di masa depan, dan memperkuat upaya kita bersama untuk menciptakan lingkungan digital yang mendukung serta meningkatkan kesejahteraan manusia,” ujarnya.

Salah satu sesi utama menghadirkan Professor Andrew J. Campbell dari The University of Sydney sebagai keynote speaker. Prof. Campbell merupakan akademisi dan peneliti yang berkecimpung dalam bidang cyberpsychology, digital mental health, serta pemanfaatan teknologi untuk mendukung kesejahteraan manusia. Melalui pengalaman yang dimilikinya, ia membuka pembahasan mengenai peluang sekaligus tantangan yang muncul ketika teknologi semakin melekat dalam pengalaman psikologis manusia.

Menurut Professor Andrew J. Campbell dari The University of Sydney, semakin besarnya peran AI dalam pengambilan keputusan justru membuat kemampuan manusia untuk berpikir kritis menjadi semakin penting. “Ketika mesin semakin banyak mengambil keputusan, penilaian manusia justru menjadi semakin berharga. Kita perlu mengembangkan kemampuan untuk mempertanyakan, mengevaluasi, dan berinteraksi secara kritis dengan AI,” ujarnya. 

Ia juga menekankan bahwa keamanan AI membutuhkan kemampuan untuk menilai kapan teknologi dapat dipercaya, menjaga kemandirian berpikir, menguji kebenaran informasi, serta mempertimbangkan aspek etis dan hubungan antarmanusia. “Sistem keamanan terpenting di era AI bukanlah sesuatu yang berada di dalam mesin, melainkan pikiran manusia yang terdidik dengan baik dan masyarakat yang tahu cara menggunakannya,” tambah Professor Andrew.

Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan sesi panel dengan tema “AI for Emotional and Psychological Support: Risks and Opportunities” diskusi yang menghadirkan Dr. Esther Widhi Andangsari, M.Si., Head of Psychology Department, Faculty of Humanities BINUS University; Dhevaania C. Gendsen, Programme Leader, School of Psychology APU; Duy Tran Hoang Le, Psychology Lecturer RMIT Vietnam, serta Dr. Gordon Ingram dari RMIT Vietnam sebagai moderator. 

Para panelis mengangkat isu terkait dimensi psikologis dari semakin luasnya integrasi AI dalam kehidupan manusia mulai dari bagaimana AI mulai diadopsi dalam konteks klinis dan layanan kesehatan, konsep artificial empathy atau kemampuan sistem digital untuk menampilkan respons yang menyerupai empati, serta konsekuensi psikologis ketika seseorang memperoleh dukungan emosional melalui teknologi berbasis AI.

Dhevaania C. Gendsen, Programme Leader, School of Psychology APU menyoroti pentingnya membedakan antara respons AI yang membantu seseorang memahami emosinya dan respons yang justru memperkuat penafsiran yang belum tentu tepat. “Kita perlu membedakan antara memvalidasi emosi seseorang dan sekadar membenarkan interpretasinya. AI seharusnya membantu seseorang melakukan refleksi, bukan memperkuat asumsi yang tidak membantu,” jelasnya.

Dari perspektif lain, Duy Tran Hoang Le selaku Psychology Lecturer RMIT Vietnam, mengingatkan bahwa penerimaan positif terhadap AI tidak serta-merta berarti masyarakat siap mengandalkannya sepenuhnya. “AI memiliki potensi besar dalam layanan kesehatan. Namun, sikap positif terhadap teknologi ini tidak selalu berarti orang siap untuk sepenuhnya bergantung padanya, terutama ketika interaksi manusia dan aksesibilitas masih menjadi perhatian,” ungkapnya.

Selain sesi keynote dan panel, forum ini juga memberikan ruang bagi mahasiswa untuk membawa perspektif generasi muda melalui presentasi paper penelitian dari BINUS University, APU Malaysia, dan RMIT Vietnam. Rangkaian ini merupakan puncak dari Student Research Competition yang sebelumnya dimulai dari seleksi proposal, dilanjutkan dengan penyusunan poster ilmiah dan presentasi penelitian.

Isu yang dibawa mahasiswa menunjukkan betapa luasnya ruang penelitian Digital Psychology saat ini. Beberapa penelitian yang diumumkan untuk sesi oral presentation antara lain DINAMIS, sebuah aplikasi digital mindfulness berbahasa Indonesia untuk membantu mengurangi stres akademik mahasiswa; penelitian mengenai automation bias dan self-efficacy dalam penyelesaian kesalahan yang dimediasi AI; serta M.I.N.D, intervensi berbasis notifikasi terjadwal yang dirancang untuk membantu mengurangi perilaku doomscrolling pada mahasiswa.

Rangkaian Digital Psychology Forum 2026 tidak berhenti sampai penyelenggaraan secara daring pada 7 Oktober 2026. Forum ini akan berlanjut secara on-site di BINUS @Malang pada 29 Oktober 2026, dengan menghadirkan pembicara dari Monash University untuk diskusi lanjutan mengenai perkembangan Digital Psychology di era perkembangan AI.

Digital Psychology Forum 2026 juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kolaborasi internasional dalam pengembangan bidang Digital Psychology. Kolaborasi BINUS University, APU, dan RMIT Vietnam memungkinkan mahasiswa serta akademisi dari berbagai latar belakang untuk saling bertukar wawasan, pendekatan penelitian, serta perspektif mengenai perubahan perilaku manusia di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat dan bagaimana teknologi membentuk manusia yang menggunakannya mulai dari cara berpikir, berinteraksi, membangun hubungan, hingga menjaga kesejahteraan psikologis.

Head of Psychology Department BINUS University Dr. Esther Widhi Andangsari, M.Si., Psikolog, mengingatkan pentingnya mempertahankan hubungan antarmanusia ketika AI digunakan untuk mencari dukungan emosional. “Risiko terbesar penggunaan AI sebagai dukungan emosional adalah kedekatan semu atau pseudo-intimacy, ketika seseorang menjadi terlalu bergantung pada AI alih-alih mencari dukungan yang bermakna dari sesama manusia atau tenaga profesional,” jelasnya. Pesan ini mempertegas pentingnya literasi digital dan pemahaman psikologis agar teknologi dimanfaatkan sebagai alat pendukung, bukan pengganti relasi dan bantuan manusia.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

LAINNYA